Ada banyak versi dan sebutan untuk tradisi ini,di priangan
timur dan beberapa daerah lain di Jawa Barat ada yang menyebut dengan Babarit ,tradisi hajat bumi bagi para
petani sebagai luapan rasa syukur atas
rejeki atau hasil panen yang berlimpah.
Babarik,selamatan
lembur atau tolak bala versi daerah saya di Cilengkrang 2 kota Bandung,adalah
suatu tradisi yang sejak dulu selalu dilaksanakan para penduduk asli.tradisi babarik ini setiap tahun selalu digelar
para sesepuh sebagai ungkapan rasa
syukur serta permohonan doa agar kampung kami selalu dilimpahkan keberkahan dan
dijauhkan dari bencana.
Para penduduk berkumpul,mereka membawa nasi tumpeng,bakar
ikan,ayam dan aneka makanan lain.mereka saling berbaur,berbagi,berdo’a
bersama,saling menyapa….sungguh sangat terasa suasana kebersamaannya.
Tapi sekarang…..
Jaman sudah berubah,Para sesepuh sudah banyak yang
berpulang,penduduk asli sudah tinggal beberapa keluarga ,generasi muda yang
sudah tidak peduli akan kelestarian tradisi lokal mereka tergerus oleh tradisi
dan adat modern dari luar,para pendatang
yang semakin mendominasi serta ketidakpedulian mereka akan tradisi
setempat.
Selain hal diatas ada anggapan tradisi babarik sebagai hal yang musyrik
bertentangan dengan tuntunan agama,(mungkin karena keyakinan mereka atau
ketidaktahuan dari inti tradisi babarik) atau apapun alasan mereka sehingga sudah hampir bisa dipastikan tradisi babarik
di daerah kami akan segera hilang...
Sungguh sangat disayangkan bila itu benar-benar terjadi.
Banyak hal positif yang bisa kita ambil dari tradisi ini,rasa
kebersamaan,persatuan,saling menghargai,saling berbagi,mensyukuri nikmat yg
diberikan Tuhan,pelestarian tradisi dan jati diri kita sebagai orang sunda
khususnya.serta banyak lagi manfaat yang telah kami rasakan.
Babarik yang diselenggarakan
baru baru ini sudah tidak seperti dulu,acara hanya diikuti oleh beberapa
warga dengan sangat sederhana.
Namun itu tidak mengurangi rasa kebersamaan kami,selama kami
masih berpijak dibumi sunda ini, akan selalu kami lestarikan ,semoga generasi
muda kami ada yang peduli dengan tradisi yang
kami wariskan kelak.
Ada pertanyaan yang mengganjal dihati ketika saya menulis
artikel ini,
Apakah tradisi sunda akan tergantian oleh adat istiadat dari
luar?..
Tidak ada lagi rasa kebersamaan,kepedulian kepada sesama dan
alam?
Masih pedulikah anda akan kelestarian adat dan budaya kita
sendiri?
Waktu akan menjawabnya.


