Tampilkan postingan dengan label bos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bos. Tampilkan semua postingan

0 Mengapa (jangan) Jadi Karyawan

















Ditulis oleh Jonminofri Nazir,Kompasiana.Sering ngobrol dengan pebisnis. Akhirnya saya ketularan ingin bisnis juga. Saya akhirnya memutuskan berhenti jadi karyawan, dan memulai usaha sendiri. Itu terjadi di awal tahun 2003. Jatuh bangun, memang. Tapi menyenangkan. Pengalaman ini tak akan bisa dirasakan oleh karyawan.

Di bawah ini beberapa alasan (secara bisnis) mengapa sebaiknya kita tak jadi karyawan.

Pertama:

Pengusaha melihat “karyawan” itu sebagai cost, bukan aset. Sebagai cost, seorang pengusaha selalu berusaha menekan biaya sampai yang termurah, yang bisa dia dapat. Jika ada dua kandidat yang berkualifikasi sama, pengusaha akan mengambil karyawan yang bergaji lebih murah.

Artinya, dari sisi karyawan sebenarnya tidak banyak pilihan. Kalau menaikkan permintaan (minta gaji) lebih besar, jangan-jangan bisa tergusur dari saingan (calon karyawan) yang mau digaji lebih murah.

Nah, ini artinya karyawan berada pada posisi tidak menguntungkan. Gajinya ditentukan oleh orang lain, dan tak bisa berbuat banyak. Jika tak setuju dengan keputusan bos, bos lebih senang meminta kita keluar daripada menaikkan gaji. Sebab, menurut logika mereka, banyak tenaga kerja yang antri mau bekerja dengan gaji yang lebih rendah.

Kedua

Jika kita bekerja pada perusahaan, usahakan mengukur diri dengan baik. Lihat tiga bulan pertama: kalau kita cocok dengan perusahaan, dan perusahaan cocok juga pada kita, ya silakan lanjutkan bekerja di kantor itu. Tapi, kalau merasa tidak cocok, segera pindah ke tempat yang lebih cocok.

Setelah bekerja selama 6 bulan, evaluasi lagi. Ajukan pertanyaan yang sama: apakah saya cocok bekerja di sini? Apakah perusahaan juga cocok dengan saya. Lihat jawaban di batin Anda: kalau merasa cocok silakan lanjut. Kalau tak cocok, silakan cari tempat kerja baru.

Jika menganggap cocok bekerjalah dengan sepenuh hati di perusahaan itu. Tapi maksimal selama 6 tahun.

Setelah enam tahun, seorang karyawan sudah mengetahui seluk beluk bisnis tersebut, sudah mencapai posisi puncak di perusahaan itu. Pada kondisi ini, karyawan tersebut sebenarnya sudah punya potensi untuk membangun bisnis sendiri. Boleh di bidang yang sama dengan kantor, atau bidang yang terkait dengan kantor, atau bisnis lagi yang berbeda.

Ketiga

Indonesia membutuhkan pengusaha lebih banyak lagi agar bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak. Jika seorang karyawan berhenti bekerja, dan membangun bisnis banyak yang bisa ditolong karyawan tersebut: negara, pengangguran, tetangga, keluarga, dan diri karyawan tersebut.





0 Boss: “I told you so…”



Saat seorang Boss berkata pada bawahannya: “I told you so…“–atau “gue kate juga apa…” saya mulai ada pikiran bahwa seorang boss cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik pada sisi prediksi kesalahan. Mungkin, ada yang bilang bahwa mereka mirip seperti yang segala-tahu dan segala-bisa. Well, itu memang persepsi orang tersebut. Namun, seorang boss juga manusia, with flesh and blood, just like us, dan mereka pasti memiliki pengalaman dalam berbuat salah.

Kenapa sih seorang boss cenderung lebih tahu daripada kita, seorang yang ada di bawah? Bagi saya, mungkin mereka memiliki kekhawatiran yang lebih besar daripada apa yang kita miliki. Kekhawatiran yang mungkin membuat tempat kerja menjadi sebuah “neraka“. Kekhawatiran yang mungkin mampu menghancurkan tempat kerja itu sendiri. Karena itulah, mereka cenderung defensif ketimbang bawahan yang bersifat ofensif.

Orang cenderung fokus terlalu banyak terhadap bos mereka. Mungkin hal ini paling umum terjadi saat ada salah satu di antaranya, baik itu pegawai ataupun boss mengalami disfungsi. Semakin mengalami disfungsi, maka fokus yang diarahkan akan semakin mengalami ketidaksetimbangan, dan justru akan menjadi sebuah “blamestorming”. Mungkin di dalam sebuah tempat kerja, ada boss yang cenderung bersifat micromanaging, dan hal itu membuatnya menjadi “sasaran tembak” siapa berbuat salah. Namun, jangan lupakan juga bahwa di dalam sebuah tempat kerja juga kadang banyak karyawan yang justru membebani boss mereka dengan informasi yang tidak mereka butuhkan, atau mungkin informasi yang tidak mereka inginkan sama-sekali yang justru akhirnya membuat hubungan antar boss dengan karyawan menjadi tidak harmonis, sebab informasi tersebut mungkin membuat sang boss menjadi lebih stress dari yang sebenarnya.

Yeah, tempat kerja kita adalah dunia kita. Namun, itu tidak serta-merta menjadikan boss yang ada di tempat kita adalah dunia kita. Tempat kerja kita adalah tempat para orang dewasa berkumpul, dengan tanggung jawab masing-masing. Tempat kita adalah tempat para orang dewasa berkumpul, dengan pilihannya sendiri. Dalam dunia profesional, setidaknya hal itu adalah yang harus pertama kali, meskipun memang tempat kerja tersebut dimiliki oleh seorang boss.

Memang memiliki seorang boss yang bersifat abusive adalah sesuatu yang memprihatinkan. Namun, bila kita memang hal tersebut membuat kita prihatin, maka kita harus mengomunikasikannya kepada sang boss, meski memang hal tersebut membuat posisi kita tidak aman, atau bahkan membahayakan reputasi kita. Remember, he is also a living flesh and blood, with hatred and anger within that could explode anytime. Tapi, sebelum melakukan hal itu, ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan demi menghindari kehancuran karier kita.

1. Ingat selalu, mengapa kita masuk ke dalam tempat kerja tersebut. Yang pasti kita harus mengerjakan tugas kita, secara tulus. Dan dari pekerjaan itulah, kita mendapatkan apa yang kita berhak–salary. Bila tempat kerja kita adalah tempat kerja yang kecil, dengan anggota kurang dari 10, maka memang pemilik tempat kerja adalah boss kita–dirinyalah yang membayar kita. Namun, saat tempat kerja kita adalah tempat kerja yang cukup besar, maka ingat selalu, kalau kita bekerja untuk perusahaan. Fokus selalu kalau kita kerja untuk perusahaan, bukan untuk bos–we work for the company, not for boss. Jadi, fokuslah dalam hal itu, dan lakukan segala sesuatu secara baik.

2. Fokus terhadap diri sendiri. Bila memang ada masalah antara kita dengan boss kita, maka ada kesempatan bahwa masalah itu adalah disebabkan oleh diri sendiri. Introspeksilah dengan berfokus terhadap diri sendiri, daripada berfokus pada sang boss. Alasannya simpel–kita tidak bisa mengontrol atau mengubah arahan dari boss kita, mengingat kita hanya mampu mengontrol dan mengubah diri kita sendiri.

3. Bersikap terbuka dan jujur terhadap diri sendiri. Memang, jujur terhadap diri sendiri adalah hal yang sulit untuk dilakukan, saat ego kita justru menghalang-halangi kita untuk berbuat jujur. Bersikap terbuka mengizinkan kita menerima apapun yang terjadi pada kita, dan tidak terpaku pada status quo atau mencari zona nyaman (comfort zone). Learn to let something go. Bila akhirnya diri kita dipecat, ya sudah lah–so be it

4. Minta nasehat dari seseorang yang mengenal boss kita melebihi kita. Terkadang banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai boss kita, sesuatu yang lebih bersifat privat. Karena itu, pasti seorang boss memiliki seseorang yang mengenal dirinya atau dirinya lebih terbuka terhadapnya. Silakan meminta nasehat kepadanya, agar kemungkinan dirinya bisa menjadi lebih baik lebih tinggi dari yang seharusnya.

5. Berikan apa yang boss dirinya butuhkan, tidak lebih tidak kurang. Dengan memberikan apa yang dirinya butuhkan, kita memberikan sesuatu yang tidak keluar dari apa yang dirinya inginkan. Memang ada boss yang bersifat abusive, yang justru meminta sesuatu secara lebih detil. Bila boss kita adalah hal yang begitu, maka tidak ada cara lain selain mengikuti caranya bekerja. Justru, dengan mengurangi detil yang kita miliki, hal itu bisa membuat sang boss menjadi semakin abusive dengan wewenangnya. Namun, insya Allah, dengan mengetahui apa yang dirinya inginkan, tanpa menjadi seorang penjilat–sycophant, kita bisa membuat hubungan antara kita dengan boss secara lebih baik.

Well, memang sulit menjaga hubungan antara seorang karyawan dan boss dalam sebuah perusahaan yang masih menggunakan topologi top-down. Namun, sebenarnya kita juga bisa membuat segalanya lebih baik dengan membuat diri kita lebih baik.

Allâhu a`lamu bi-s-shawâbi…



sumber


0 Bos menyebalkan bisa bikin rumah tangga berantakan



Ilustrasi bos menyebalkan. © Merdeka.com

Berdasarkan penelitian Dr Nicolas Giller dan timnya dari Universite Francois Rabelais di Perancis, manajer atau atasan yang menyebalkan dan sering menggunakan ancaman untuk memotivasi karyawannya bisa mempengaruhi kehidupan karyawan.

Meskipun penemuan ini sebenarnya tidak mengagetkan, karena penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa atasan yang menyebalkan juga bisa mempengaruhi kesehatan mental dan jantung karyawan. Namun, penelitian yang terakhir ini juga menunjukkan bahwa bos yang semena-mena bisa mempengaruhi kehidupan rumah tangga karyawan.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa beban kerja yang dibawa oleh karyawan bisa mempengaruhi keluarganya dan membuat konflik antara keluarga dan pekerjaan. Karyawan yang tertekan oleh atasan di tempat kerja akan lebih sering mengalami cek cok dengan pasangannya," kata Dr Dawn Carlson, ketua penelitian, seperti dilansir oleh Times of India (28/06).

"Tak hanya itu, ketegangan itu bisa berakibat buruk bagi rumah tangga karyawan karena karyawan akan selalu merasa tertekan dan tak bisa sepenuhnya memperhatikan keluarganya," tambahnya.

Jo Lamble, seorang psikolog klinis sama sekali tidak terkejut dengan hasil itu.

"Kita menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, jadi ketika tempat kerja menjadi tidak menyenangkan, bahkan jika karyawan terus-terusan merasa tertekan, maka ini akan mempengaruhi mood dan membuat karyawan lebih mudah depresi, tersinggung, dan cepat marah ketika berada di rumah," katanya.

"Banyak orang yang bekerja pada atasan yang pemarah dan buruk pasti akan menumpahkan kekesalannya di rumah pada keluarga mereka. Sementara keluarganya pasti berharap dia membicarakan hal lain," tambahnya.



0 Bila Bos Ngajak Berantem




Orang jepang jika bertemu dengan siapapun pasti tidak lupa mereka akan membungkukkan badannya. Kenapa? Kata mereka ‘membungkuk itu merupakan sikap mengalah untuk menang, seperti pohon ilalang. Membungkuk bukan karena lemah atau mau diinjak-injak seperti tanah.”

Beberapa waktu lalu, saya baru saja bertemu dengan seorang teman. Sambil menahan tangis, dia mengeluhkan nasib dirinya yang baru saja mendapat teguran keras dari atasannya. Saya merasa aneh, bukan aneh karena melihat dia menangis, tapi saya mengenal teman saya itu sebagai sosok yang nggak cengeng dan sangat ceplas-ceplos jika berbicara. Kata-kata kasar pun bagi dia sudah merupakan hal biasa didengarnya. Bahkan, baginya kata-kata seperti itu hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi, ternyata tidak demikian untuk kali ini.


Tak berapa lama saya pun dapat jawabannya. Usut punya usut, ternyata teman saya ini baru saja dimaki-maki oleh atasannya sambil mengancam akan diberhentikan dari pekerjaannya. Sontak saja teman saya kaget bercampur bingung coz dia tidak mengerti apa-apa dan tidak menemukan alasan mengapa dia harus dipecat. Karena merasa tidak punya salah, teman saya pun jadi berang. Selanjutnya terjadilah adu mulut di antara keduanya. Selanjutnya pembaca bisa menebak apa yang terjadi kemudian.

Dari sepotong cerita di atas membuat saya berpikir, maybe atasan teman saya tersebut sedang bad mood. Dan karena kebetulan dihadapan dia hanya ada teman saya, maka kepada teman saya itulah tempat pelampiasan ke-bad mood-annya. Ditambah lagi saat itu emosinya sedang tidak terkontrol. Tetapi, saya berpikir lagi, jika semua karyawan diperlakukan demikian, mungkin akan banyak karyawan yang akan mengalami tekanan batin. Pada akhirnya hal tersebut akan berdampak pada penurunan produktifitas kerja.

Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu Komunikasi, suatu pengantar” bahwa komunikasi manusia melibatkan sistem internal dan eksternal. Sistem internal meliputi seluruh sistem nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia cerap selama sosialisasinya dalam lingkungan tempat kerja, keluarga, agama, kelompok sebaya, sekolah/kampus, suku, dan sebagainya.. Adapun sistem eksternal adalah unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu. Contoh, kata-kata yang dipilih untuk berbicara, isyarat fisik (seperti mengarahkan telunjuk ke arah lawan bicara, ekspresi wajah marah, sedih, gembira), intonasi suara (pelan atau tinggi).

Kembali ke teman saya di atas. Ketika ada seorang atasan, misal saja dia baru berantem dengan pacarnya, lalu pada saat yang bersamaan ia melihat ada sesuatu pada karyawannya yang tidak mengenakan hatinya. Saat itu, terlontarlah kata-kata yang bisa sangat tidak mengenakan bagi sang karyawan. Artinya, dalam kondisi tersebut sang atasan tidak bisa menghilangkan begitu saja kekesalan dia terhadap sang pacar, hingga saat ia sudah berada di tempat kerja.

Memang, suasana psikologis seseorang tidak pelak mempengaruhi suasana komunikasi. Sama halnya ketika seorang istri berkomentar tentang kenaikan harga kebutuhan rumah tangga dan kurangnya uang belanja pemberian suaminya. Hal tersebut bisa jadi akan ditanggapi dengan kepala dingin oleh suaminya bila dalam keadaan santai. Sebaliknya, sang suami akan berang bila istri menyampaikan komentar tersebut pada saat suami baru pulang kerja, yang mana pekerjaan di kantor masih banyak yang belum terselesaikan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan perpaduan antara sistem internal dan eksternal pada manusia..

Sebagaimana di atas, salah satu faktor internal yang mempengaruhi komunikasi antar manusia adalah knowledge. Knowledge bisa bersumber dari nilai-nilai atau ajaran dalam agama atau kepercayaan serta adat istiadat. Komunikasi antar individu bisa diarahkan sesuai dengan knowledge tersebut. Dengan bekal nilai-nilai tersebut, bisa jadi seseorang akan berpikir dua kali ketika akan melontarkan kata-kata makian. Karena yang demikian bertentangan dengan nilai-nilai yang ia emban. Bukankah kesalahan yang dilakukan seorang karyawan tidak selamanya harus ditanggapi dengan makian?

Saya mencoba menganalogikannya dengan air -contoh yang sangat dekat dengan kita. Air selalu mengalir tanpa membentur batu besar yang menghalang di depannya. Tetapi ia mendatanginya dengan perlahan, lalu meresap sampai batu itu lama-kelamaan menjadi rapuh dan akhirnya hancur. Dengan kelenturannya, air bisa melewati tantangan dihadapannya. Kelenturan air tidak mengelak, tidak mengalahkan orang lain tapi bisa sampai ke tujuan.

Sebaliknya, bila dalam komunikasi, kita menggunakan logika batu, kumpul-kumpul bisa saja setiap hari, makan siang bareng-bareng, namun semua itu hanya dibungkus dengan kepentingan egois masing-masing individu. Persaingan, saling curiga bahkan menjadi bom waktu yang bisa menimbulkan percikan api.

Pengetahuan tentang hal tersebut, jika dijadikan sebagai knowledge dan tertanam kuat dalam benak, akan menghasilkan sikap yang tenang dan tidak ceroboh dalam memutuskan sesuatu.

Kelebihan air yang lain yang bisa dipetik pelajaran darinya adalah air itu bersifat lentur. Yang memiliki lebih banyak, tidak berada di atas melainkan di bawah. Itulah yang terjadi pada air laut. Posisi air laut berada di bawah air sungai. Padahal dari sisi volume, air laut lebih banyak daripada air sungai. Disinilah arti pentingnya tawaddu (rendah diri).

Selain itu, memaafkan juga salah satu buah dari logika air. Allah SWT memerintahkan kita harus berbuat baik pada mereka yang tidak berbuat baik kepada kita. (QS. Al Syuraa:40). Namun ada yang lebih utama dari memaafkan kesalahan orang lain, yaitu berbuat baik kepada orang yang menyalahkan kita. Rasulullah Saw. bersabda,” jangan kamu marah, jangan kamu marah, jangan kamu marah: Sesungguhnya marah itu bagaikan bara api!”




0 Kenapa Orang Bagus Resign?

Illustrasi


"Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules."

Kalimat di atas adalah potongan yang saya kutip dari http://www.ridwanforge.net/blog/sindrom-resign-di-kantor-kenapa-yah.

Sungguh ironis memang tapi itulah kenyataan yang terjadi. Kebanyakan orang-orang berbakat dengan skill dan pengetahuan yang bagus serta berkualitas karakternya justru meninggalkan perusahaan yang menawarkan potensi karir yang bagus.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Gaji lebih besar, karir lebih bagus, suasana lebih nyaman, atau lebih dekat dengan kampung halaman adalah beberapa contoh alasan seseorang untuk resign. Tapi semua itu hanyalah alasan pelarian belaka dibalik alasan utamanya. Alasan ini sengaja disampaikan karena bagi mereka yang resign hanya inilah cara terbaik untuk keluar dengan cara yang baik tanpa meninggalkan kesan jelek atau merusak relasi. Singkat kata, semua alasan ini hanyalah basa-basi sekedar sopan santun saja.

Kalau mereka ditanya lebih lanjut dari pihak ketiga setelah keluar ataupun masih di perusahaan tersebut dan bakal resign, bisa dipastikan pada umumnya akan menjawab lebih kepada masalah personal. Mereka memilih keluar karena merasa tidak dihargai akibat pola kepemimpinan atasannya yang cendrung mengarah ke premanisasi.

Seorang pekerja siapapun dia tetaplah seorang manusia yang ingin dihargai dan dihormati hak-nya. Siapa yang tidak tersinggung jika dipermalukan di depan banyak orang dan parahnya di depan bawahannya. Harga diri selalu dijatuhkan hanya karena tidak bisa menyelesaikan suatu tugas yang jelas-jelas bukan karena kelalaian akan tetapi lebih kepada kerja yang sudah kelewat berlebihan.

Kenapa kebanyakan orang ketika menjadi atasan jadi berubah perangai dan tingkah laku hanya karena mendapatkan tekanan dari atas agar target tercapai? Mereka cendrung, para bos ini, mengandalkan kekuatan posisi dengan brutal. Mengobral ancaman pecat dengan kalimat yang sangat berlebihan, marah yang tidak memberi solusi hanya sekedar berteriak-teriak penuh makian yang jelas-jelas malah menunjukkan bahwa dirinya bagai orang tidak berpendidikan. Selalu mencari kesalahan anak buahnya dan menikmati ketakutan, kegugupan, ketidaktahuan, serta ketidakberdayaan bawahannya. Bahkan melakukan tindakan mafia hingga mencampuradukkan masalah kerja dengan keluarga orang lain. Lebih parahnya malah ada yang bertindak posesif hingga akan melakukan apapun agar karyawannya yang sangat dia butuhkan dan harapkan agar tetap bekerja di tempatnya. Contoh: kalau si karyawan ada ikut tes ke suatu perusahaan yang ada hubungan dengan perusahaan tempat dia bekerja, nge-bos, dia akan gagalkan dengan “mengingatkan” perusahaan yang dilamar si karyawan agar “tidak boleh memboikot” karyawannya.

Bos yang tipikal preman ini hanya akan menghasilkan dua akibat:

Karyawan yang terkekang

Karyawan yang tetap bertahan di perusahaan lama tapi memiliki mental pecundang dan penakut atau tidak punya pilihan lain karena sudah berumur, pendidikan rendah, dan berkeluarga. Pada kasus ini, si bos adalah pemenangnya.

Karyawan yang membangkang

Karyawan yang tidak tahan lagi akan mengambil tindakan berikut:
langsung resign meskipun belum ada kerja di luar
selalu melamar ke perusahaan lain dan bakal resign jika lulus
akan bekerja apa adanya

Untuk jenis kedua ini adalah lebih kepada masalah prinsip si karyawan. Dia rela mengorbankan potensi karirnya hanya karena dia tidak senang dengan karakter atasannya. Selagi dia bisa menahan perilaku “kekanak-kanakan” bos-nya, dia bersabar untuk bertahan sementara waktu hingga dapat kerjaan baru. Paling tidak setelah keluar dia bisa memulai lembaran baru. Dan jika mendapatkan tipe bos yang sama dengan sebelumnya paling tidak dia telah berhasil mengingatkan bos yang pertama bahwa jangan macam-macam dengan perasaan orang dan dia sudah berpengalaman untuk mengatasi tipikal bos yang sama di tempat yang baru. Kalaupun nanti sudah mencapai titik jemu, dia akan mencari tempat lain lagi.

Jadi, alasan orang keluar suatu perusahaan lebih kepada ketidakcocokan dengan bos-nya. Bukan karena gaji besar, karir lebih bagus, atau alasan klise lainnya.

Satu kata yang jelas dan tegas dari mereka adalah “Tidak ada yang suka dengan tipikal pemimpin yang mencontek gaya kepemimpinan Firaun dan pemimpin kejam lainnya!”

Pesan teman penulis yang resign karena alasan ini adalah

“Kita sama-sama digaji sebagai karyawan. Bedanya hanyalah pada posisi. Itupun karena anda sebagai bos lebih duluan berkarir ketimbang saya. Kalaupun anda sombong dengan kekuasaan sekarang apakah tidak pernah terpikirkan apakah anda pantas menduduki posisi sekarang? Apakah anda menjabat karena memang anda berpotensi di posisi tersebut? Anda boleh menjual murah kata pecat jika anda adalah pemilik perusahaan ini. Sudahlah jangan bertingkah norak lagi, cukupkan sampai disini dan mulailah berubah sebelum anda menemui batunya. Maaf jika menyinggung tapi adalah lebih baik jika kita tidak berhubungan lagi sebagai bos dan bawahan.”

Sekarang apakah yang penulis sampaikan ini benar atau tidak adalah tergantung pada kita semua. Yang jelas jika kita suatu saat diberi amanat menjadi atasan agar jangan pernah mempraktekkan gaya kepemimpinan preman! Contohlah kepemimpinan Nabi Muhammad (bagi yang muslim) atau Liu Bei (baca Sejarah Tiga Kerajaan).




0 Makian karyawan pada si bos yang serakah..


hitler

Hargai orang, jika anda ingin dihargai..
Hargai dia sebagai manusia, bukan mesin atau sapi perah..
Mereka bekerja dengan cucuran keringat dan perasaan.
Jangan kau hianati mereka.
Jangan kau bohongi mereka.
Pastikan anda tidak lebih kejam dari kompeni atau jepang memperlakukan romusha.
Bila anda harus memberi, berilah dengan ikhlas.

Beri sesuai apa yang mereka kerjakan dan perbuat.
Jangan pernah mengambil apa yang bukan hak anda.
Jangan sok bijaksana, tapi intinya mencuci otak karyawan.
Jangan mengutip kitab suci untuk menindas orang.
Dosa besar..
Jangan mengukur semua dengan materi, ukurlah dengan hati.
Susah , kalau otak anda isinya uang melulu..
SERAKAH..
Ingat, kalau uang tidak anda bawa mati, hanya kain putih yang akan membungkus anda..
Moga moga anda tidak tuli, bos yang pelit dan serakah!!!



Mohon izin bila ada artikel yg den_copas dari blog sobat...semata-mata untuk saling berbagi informasi saja...link Sumber tetap disertakan...thx