Home » , » Boss: “I told you so…”

Boss: “I told you so…”



Saat seorang Boss berkata pada bawahannya: “I told you so…“–atau “gue kate juga apa…” saya mulai ada pikiran bahwa seorang boss cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik pada sisi prediksi kesalahan. Mungkin, ada yang bilang bahwa mereka mirip seperti yang segala-tahu dan segala-bisa. Well, itu memang persepsi orang tersebut. Namun, seorang boss juga manusia, with flesh and blood, just like us, dan mereka pasti memiliki pengalaman dalam berbuat salah.

Kenapa sih seorang boss cenderung lebih tahu daripada kita, seorang yang ada di bawah? Bagi saya, mungkin mereka memiliki kekhawatiran yang lebih besar daripada apa yang kita miliki. Kekhawatiran yang mungkin membuat tempat kerja menjadi sebuah “neraka“. Kekhawatiran yang mungkin mampu menghancurkan tempat kerja itu sendiri. Karena itulah, mereka cenderung defensif ketimbang bawahan yang bersifat ofensif.

Orang cenderung fokus terlalu banyak terhadap bos mereka. Mungkin hal ini paling umum terjadi saat ada salah satu di antaranya, baik itu pegawai ataupun boss mengalami disfungsi. Semakin mengalami disfungsi, maka fokus yang diarahkan akan semakin mengalami ketidaksetimbangan, dan justru akan menjadi sebuah “blamestorming”. Mungkin di dalam sebuah tempat kerja, ada boss yang cenderung bersifat micromanaging, dan hal itu membuatnya menjadi “sasaran tembak” siapa berbuat salah. Namun, jangan lupakan juga bahwa di dalam sebuah tempat kerja juga kadang banyak karyawan yang justru membebani boss mereka dengan informasi yang tidak mereka butuhkan, atau mungkin informasi yang tidak mereka inginkan sama-sekali yang justru akhirnya membuat hubungan antar boss dengan karyawan menjadi tidak harmonis, sebab informasi tersebut mungkin membuat sang boss menjadi lebih stress dari yang sebenarnya.

Yeah, tempat kerja kita adalah dunia kita. Namun, itu tidak serta-merta menjadikan boss yang ada di tempat kita adalah dunia kita. Tempat kerja kita adalah tempat para orang dewasa berkumpul, dengan tanggung jawab masing-masing. Tempat kita adalah tempat para orang dewasa berkumpul, dengan pilihannya sendiri. Dalam dunia profesional, setidaknya hal itu adalah yang harus pertama kali, meskipun memang tempat kerja tersebut dimiliki oleh seorang boss.

Memang memiliki seorang boss yang bersifat abusive adalah sesuatu yang memprihatinkan. Namun, bila kita memang hal tersebut membuat kita prihatin, maka kita harus mengomunikasikannya kepada sang boss, meski memang hal tersebut membuat posisi kita tidak aman, atau bahkan membahayakan reputasi kita. Remember, he is also a living flesh and blood, with hatred and anger within that could explode anytime. Tapi, sebelum melakukan hal itu, ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan demi menghindari kehancuran karier kita.

1. Ingat selalu, mengapa kita masuk ke dalam tempat kerja tersebut. Yang pasti kita harus mengerjakan tugas kita, secara tulus. Dan dari pekerjaan itulah, kita mendapatkan apa yang kita berhak–salary. Bila tempat kerja kita adalah tempat kerja yang kecil, dengan anggota kurang dari 10, maka memang pemilik tempat kerja adalah boss kita–dirinyalah yang membayar kita. Namun, saat tempat kerja kita adalah tempat kerja yang cukup besar, maka ingat selalu, kalau kita bekerja untuk perusahaan. Fokus selalu kalau kita kerja untuk perusahaan, bukan untuk bos–we work for the company, not for boss. Jadi, fokuslah dalam hal itu, dan lakukan segala sesuatu secara baik.

2. Fokus terhadap diri sendiri. Bila memang ada masalah antara kita dengan boss kita, maka ada kesempatan bahwa masalah itu adalah disebabkan oleh diri sendiri. Introspeksilah dengan berfokus terhadap diri sendiri, daripada berfokus pada sang boss. Alasannya simpel–kita tidak bisa mengontrol atau mengubah arahan dari boss kita, mengingat kita hanya mampu mengontrol dan mengubah diri kita sendiri.

3. Bersikap terbuka dan jujur terhadap diri sendiri. Memang, jujur terhadap diri sendiri adalah hal yang sulit untuk dilakukan, saat ego kita justru menghalang-halangi kita untuk berbuat jujur. Bersikap terbuka mengizinkan kita menerima apapun yang terjadi pada kita, dan tidak terpaku pada status quo atau mencari zona nyaman (comfort zone). Learn to let something go. Bila akhirnya diri kita dipecat, ya sudah lah–so be it

4. Minta nasehat dari seseorang yang mengenal boss kita melebihi kita. Terkadang banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai boss kita, sesuatu yang lebih bersifat privat. Karena itu, pasti seorang boss memiliki seseorang yang mengenal dirinya atau dirinya lebih terbuka terhadapnya. Silakan meminta nasehat kepadanya, agar kemungkinan dirinya bisa menjadi lebih baik lebih tinggi dari yang seharusnya.

5. Berikan apa yang boss dirinya butuhkan, tidak lebih tidak kurang. Dengan memberikan apa yang dirinya butuhkan, kita memberikan sesuatu yang tidak keluar dari apa yang dirinya inginkan. Memang ada boss yang bersifat abusive, yang justru meminta sesuatu secara lebih detil. Bila boss kita adalah hal yang begitu, maka tidak ada cara lain selain mengikuti caranya bekerja. Justru, dengan mengurangi detil yang kita miliki, hal itu bisa membuat sang boss menjadi semakin abusive dengan wewenangnya. Namun, insya Allah, dengan mengetahui apa yang dirinya inginkan, tanpa menjadi seorang penjilat–sycophant, kita bisa membuat hubungan antara kita dengan boss secara lebih baik.

Well, memang sulit menjaga hubungan antara seorang karyawan dan boss dalam sebuah perusahaan yang masih menggunakan topologi top-down. Namun, sebenarnya kita juga bisa membuat segalanya lebih baik dengan membuat diri kita lebih baik.

Allâhu a`lamu bi-s-shawâbi…



sumber


0 komentar :

Posting Komentar

Mohon izin bila ada artikel yg den_copas dari blog sobat...semata-mata untuk saling berbagi informasi saja...link Sumber tetap disertakan...thx