
Orang jepang jika bertemu dengan siapapun pasti tidak lupa mereka akan membungkukkan badannya. Kenapa? Kata mereka ‘membungkuk itu merupakan sikap mengalah untuk menang, seperti pohon ilalang. Membungkuk bukan karena lemah atau mau diinjak-injak seperti tanah.”
Beberapa waktu lalu, saya baru saja bertemu dengan seorang teman. Sambil menahan tangis, dia mengeluhkan nasib dirinya yang baru saja mendapat teguran keras dari atasannya. Saya merasa aneh, bukan aneh karena melihat dia menangis, tapi saya mengenal teman saya itu sebagai sosok yang nggak cengeng dan sangat ceplas-ceplos jika berbicara. Kata-kata kasar pun bagi dia sudah merupakan hal biasa didengarnya. Bahkan, baginya kata-kata seperti itu hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi, ternyata tidak demikian untuk kali ini.
Tak berapa lama saya pun dapat jawabannya. Usut punya usut, ternyata teman saya ini baru saja dimaki-maki oleh atasannya sambil mengancam akan diberhentikan dari pekerjaannya. Sontak saja teman saya kaget bercampur bingung coz dia tidak mengerti apa-apa dan tidak menemukan alasan mengapa dia harus dipecat. Karena merasa tidak punya salah, teman saya pun jadi berang. Selanjutnya terjadilah adu mulut di antara keduanya. Selanjutnya pembaca bisa menebak apa yang terjadi kemudian.
Dari sepotong cerita di atas membuat saya berpikir, maybe atasan teman saya tersebut sedang bad mood. Dan karena kebetulan dihadapan dia hanya ada teman saya, maka kepada teman saya itulah tempat pelampiasan ke-bad mood-annya. Ditambah lagi saat itu emosinya sedang tidak terkontrol. Tetapi, saya berpikir lagi, jika semua karyawan diperlakukan demikian, mungkin akan banyak karyawan yang akan mengalami tekanan batin. Pada akhirnya hal tersebut akan berdampak pada penurunan produktifitas kerja.
Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu Komunikasi, suatu pengantar” bahwa komunikasi manusia melibatkan sistem internal dan eksternal. Sistem internal meliputi seluruh sistem nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia cerap selama sosialisasinya dalam lingkungan tempat kerja, keluarga, agama, kelompok sebaya, sekolah/kampus, suku, dan sebagainya.. Adapun sistem eksternal adalah unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu. Contoh, kata-kata yang dipilih untuk berbicara, isyarat fisik (seperti mengarahkan telunjuk ke arah lawan bicara, ekspresi wajah marah, sedih, gembira), intonasi suara (pelan atau tinggi).
Kembali ke teman saya di atas. Ketika ada seorang atasan, misal saja dia baru berantem dengan pacarnya, lalu pada saat yang bersamaan ia melihat ada sesuatu pada karyawannya yang tidak mengenakan hatinya. Saat itu, terlontarlah kata-kata yang bisa sangat tidak mengenakan bagi sang karyawan. Artinya, dalam kondisi tersebut sang atasan tidak bisa menghilangkan begitu saja kekesalan dia terhadap sang pacar, hingga saat ia sudah berada di tempat kerja.
Memang, suasana psikologis seseorang tidak pelak mempengaruhi suasana komunikasi. Sama halnya ketika seorang istri berkomentar tentang kenaikan harga kebutuhan rumah tangga dan kurangnya uang belanja pemberian suaminya. Hal tersebut bisa jadi akan ditanggapi dengan kepala dingin oleh suaminya bila dalam keadaan santai. Sebaliknya, sang suami akan berang bila istri menyampaikan komentar tersebut pada saat suami baru pulang kerja, yang mana pekerjaan di kantor masih banyak yang belum terselesaikan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan perpaduan antara sistem internal dan eksternal pada manusia..
Sebagaimana di atas, salah satu faktor internal yang mempengaruhi komunikasi antar manusia adalah knowledge. Knowledge bisa bersumber dari nilai-nilai atau ajaran dalam agama atau kepercayaan serta adat istiadat. Komunikasi antar individu bisa diarahkan sesuai dengan knowledge tersebut. Dengan bekal nilai-nilai tersebut, bisa jadi seseorang akan berpikir dua kali ketika akan melontarkan kata-kata makian. Karena yang demikian bertentangan dengan nilai-nilai yang ia emban. Bukankah kesalahan yang dilakukan seorang karyawan tidak selamanya harus ditanggapi dengan makian?
Saya mencoba menganalogikannya dengan air -contoh yang sangat dekat dengan kita. Air selalu mengalir tanpa membentur batu besar yang menghalang di depannya. Tetapi ia mendatanginya dengan perlahan, lalu meresap sampai batu itu lama-kelamaan menjadi rapuh dan akhirnya hancur. Dengan kelenturannya, air bisa melewati tantangan dihadapannya. Kelenturan air tidak mengelak, tidak mengalahkan orang lain tapi bisa sampai ke tujuan.
Sebaliknya, bila dalam komunikasi, kita menggunakan logika batu, kumpul-kumpul bisa saja setiap hari, makan siang bareng-bareng, namun semua itu hanya dibungkus dengan kepentingan egois masing-masing individu. Persaingan, saling curiga bahkan menjadi bom waktu yang bisa menimbulkan percikan api.
Pengetahuan tentang hal tersebut, jika dijadikan sebagai knowledge dan tertanam kuat dalam benak, akan menghasilkan sikap yang tenang dan tidak ceroboh dalam memutuskan sesuatu.
Kelebihan air yang lain yang bisa dipetik pelajaran darinya adalah air itu bersifat lentur. Yang memiliki lebih banyak, tidak berada di atas melainkan di bawah. Itulah yang terjadi pada air laut. Posisi air laut berada di bawah air sungai. Padahal dari sisi volume, air laut lebih banyak daripada air sungai. Disinilah arti pentingnya tawaddu (rendah diri).
Selain itu, memaafkan juga salah satu buah dari logika air. Allah SWT memerintahkan kita harus berbuat baik pada mereka yang tidak berbuat baik kepada kita. (QS. Al Syuraa:40). Namun ada yang lebih utama dari memaafkan kesalahan orang lain, yaitu berbuat baik kepada orang yang menyalahkan kita. Rasulullah Saw. bersabda,” jangan kamu marah, jangan kamu marah, jangan kamu marah: Sesungguhnya marah itu bagaikan bara api!”
Beberapa waktu lalu, saya baru saja bertemu dengan seorang teman. Sambil menahan tangis, dia mengeluhkan nasib dirinya yang baru saja mendapat teguran keras dari atasannya. Saya merasa aneh, bukan aneh karena melihat dia menangis, tapi saya mengenal teman saya itu sebagai sosok yang nggak cengeng dan sangat ceplas-ceplos jika berbicara. Kata-kata kasar pun bagi dia sudah merupakan hal biasa didengarnya. Bahkan, baginya kata-kata seperti itu hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi, ternyata tidak demikian untuk kali ini.
Tak berapa lama saya pun dapat jawabannya. Usut punya usut, ternyata teman saya ini baru saja dimaki-maki oleh atasannya sambil mengancam akan diberhentikan dari pekerjaannya. Sontak saja teman saya kaget bercampur bingung coz dia tidak mengerti apa-apa dan tidak menemukan alasan mengapa dia harus dipecat. Karena merasa tidak punya salah, teman saya pun jadi berang. Selanjutnya terjadilah adu mulut di antara keduanya. Selanjutnya pembaca bisa menebak apa yang terjadi kemudian.
Dari sepotong cerita di atas membuat saya berpikir, maybe atasan teman saya tersebut sedang bad mood. Dan karena kebetulan dihadapan dia hanya ada teman saya, maka kepada teman saya itulah tempat pelampiasan ke-bad mood-annya. Ditambah lagi saat itu emosinya sedang tidak terkontrol. Tetapi, saya berpikir lagi, jika semua karyawan diperlakukan demikian, mungkin akan banyak karyawan yang akan mengalami tekanan batin. Pada akhirnya hal tersebut akan berdampak pada penurunan produktifitas kerja.
Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu Komunikasi, suatu pengantar” bahwa komunikasi manusia melibatkan sistem internal dan eksternal. Sistem internal meliputi seluruh sistem nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia cerap selama sosialisasinya dalam lingkungan tempat kerja, keluarga, agama, kelompok sebaya, sekolah/kampus, suku, dan sebagainya.. Adapun sistem eksternal adalah unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu. Contoh, kata-kata yang dipilih untuk berbicara, isyarat fisik (seperti mengarahkan telunjuk ke arah lawan bicara, ekspresi wajah marah, sedih, gembira), intonasi suara (pelan atau tinggi).
Kembali ke teman saya di atas. Ketika ada seorang atasan, misal saja dia baru berantem dengan pacarnya, lalu pada saat yang bersamaan ia melihat ada sesuatu pada karyawannya yang tidak mengenakan hatinya. Saat itu, terlontarlah kata-kata yang bisa sangat tidak mengenakan bagi sang karyawan. Artinya, dalam kondisi tersebut sang atasan tidak bisa menghilangkan begitu saja kekesalan dia terhadap sang pacar, hingga saat ia sudah berada di tempat kerja.
Memang, suasana psikologis seseorang tidak pelak mempengaruhi suasana komunikasi. Sama halnya ketika seorang istri berkomentar tentang kenaikan harga kebutuhan rumah tangga dan kurangnya uang belanja pemberian suaminya. Hal tersebut bisa jadi akan ditanggapi dengan kepala dingin oleh suaminya bila dalam keadaan santai. Sebaliknya, sang suami akan berang bila istri menyampaikan komentar tersebut pada saat suami baru pulang kerja, yang mana pekerjaan di kantor masih banyak yang belum terselesaikan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan perpaduan antara sistem internal dan eksternal pada manusia..
Sebagaimana di atas, salah satu faktor internal yang mempengaruhi komunikasi antar manusia adalah knowledge. Knowledge bisa bersumber dari nilai-nilai atau ajaran dalam agama atau kepercayaan serta adat istiadat. Komunikasi antar individu bisa diarahkan sesuai dengan knowledge tersebut. Dengan bekal nilai-nilai tersebut, bisa jadi seseorang akan berpikir dua kali ketika akan melontarkan kata-kata makian. Karena yang demikian bertentangan dengan nilai-nilai yang ia emban. Bukankah kesalahan yang dilakukan seorang karyawan tidak selamanya harus ditanggapi dengan makian?
Saya mencoba menganalogikannya dengan air -contoh yang sangat dekat dengan kita. Air selalu mengalir tanpa membentur batu besar yang menghalang di depannya. Tetapi ia mendatanginya dengan perlahan, lalu meresap sampai batu itu lama-kelamaan menjadi rapuh dan akhirnya hancur. Dengan kelenturannya, air bisa melewati tantangan dihadapannya. Kelenturan air tidak mengelak, tidak mengalahkan orang lain tapi bisa sampai ke tujuan.
Sebaliknya, bila dalam komunikasi, kita menggunakan logika batu, kumpul-kumpul bisa saja setiap hari, makan siang bareng-bareng, namun semua itu hanya dibungkus dengan kepentingan egois masing-masing individu. Persaingan, saling curiga bahkan menjadi bom waktu yang bisa menimbulkan percikan api.
Pengetahuan tentang hal tersebut, jika dijadikan sebagai knowledge dan tertanam kuat dalam benak, akan menghasilkan sikap yang tenang dan tidak ceroboh dalam memutuskan sesuatu.
Kelebihan air yang lain yang bisa dipetik pelajaran darinya adalah air itu bersifat lentur. Yang memiliki lebih banyak, tidak berada di atas melainkan di bawah. Itulah yang terjadi pada air laut. Posisi air laut berada di bawah air sungai. Padahal dari sisi volume, air laut lebih banyak daripada air sungai. Disinilah arti pentingnya tawaddu (rendah diri).
Selain itu, memaafkan juga salah satu buah dari logika air. Allah SWT memerintahkan kita harus berbuat baik pada mereka yang tidak berbuat baik kepada kita. (QS. Al Syuraa:40). Namun ada yang lebih utama dari memaafkan kesalahan orang lain, yaitu berbuat baik kepada orang yang menyalahkan kita. Rasulullah Saw. bersabda,” jangan kamu marah, jangan kamu marah, jangan kamu marah: Sesungguhnya marah itu bagaikan bara api!”
0 komentar :
Posting Komentar