Illustrasi
Disclaimer:
"Posting ini berisi curahan hati saya tentang pekerjaan. Yeah, posting ini terkesan menonjolkan sifat egoisme dalam diri. Namun, saya juga tidak hanya membahas sisi negatif, namun juga setidaknya memberikan sedikit saja solusi yang mungkin bisa bermanfaat."
Sebagai freelancer, selama ini, saya bekerja di beberapa tempat. Dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tentu, di sana saya menemukan banyak sekali orang-orang cerdas yang mungkin berusia di bawah saya ataupun yang lebih tua daripada saya, dan tentu saja lebih dewasa. Eksekutif, entrepreneur, hingga owner perusahaan saya belajar banyak dari mereka.
Memang, lingkungan dan tempat di mana saya bekerja tidaklah luas. Namun saya tidak hanya asal kerja, namun juga observasi sebagai lahan pembelajaran nanti saat saya sudah punya usaha sendiri agar pertanyaan “Seperti apa sih manajer atau boss yang baik itu?” saya dapatkan jawabannya sendiri.
Tentu, seorang yang selalu serius saja, atau selalu bercanda adalah orang yang tidak asyik bagi semuanya. One size manager. One side manager. Seorang boss atau manajer yang hanya bertindak ganas saja, atau sebaliknya. Saya jadi ingat pepatah Arab yang benar-benar mengena tentang one size manager seperti ini.
لاَ تَكُنْ رَطْباً فَتُعْصَرَ وَلاَ يَابِسًا فَتُكَسَّرَ
Janganlah engkau bersikap lemah, sehingga kamu akan diperas, dan janganlah kamu bersikap keras, sehingga kamu akan dipatahkan.
Tentu, one size manager tidak akan pernah cocok dengan situasi apapun. Saat terjadi sesuatu yang mengguncang perusahaan, dirinya haruslah bertindak gegas, tanpa terlalu lama menunggu pemikiran yang matang. Yang sedang-sedang saja. Karena itu, saya di sini merumuskan tiga karakteristik boss yang saya kurang sukai, yang mereka itu justru cenderung menjadi seorang perusak ketimbang yang memperbaiki. Mufsid, ketimbang mushlih. Destruktif ketimbang konstruktif, baik untuk dirinya ataupun untuk orang lain.
Well, saya tidak mengatakan diri saya terbebas dari karakteristik-karakteristik tersebut. Namun setidaknya, dari pengamatan saya, saya (dan mungkin Anda) juga bisa belajar agar dapat menghindari karakteristik-karakteristik yang justru kurang disukai:
1. Seorang yang “serba tahu” segalanya.
Apa yang salah dari seseorang yang “serba tahu“? Bukannya justru bagus dari sikap serba tahu, karena serba tahu adalah sikap pembelajar? Well, bukan itu maksudnya. “Serba tahu” yang saya maksudkan adalah seseorang yang cenderung memiliki semua jawaban dari semua pertanyaan, dan tentu saja jawabannya tidak pernah salah. Karena dirinya tidak pernah salah, maka siapapun yang dirinya lihat melakukan kesalahan akan cenderung diberi sesuatu yang kurang enak–bisa jadi hujatan atau bahkan makian dan lain sebagainya. “Gimana sih kerjaan kamu begini-begini, begitu-begitu, blah-blah-blah….” kadang-kadang keluar dari mulut mereka.
Karena dirinya tak pernah merasa salah, maka dirinya menghendaki siapapun agar memiliki visi yang sama dengan dirinya, tentang apapun yang harus terjadi di dalam perusahaan, bahkan hingga tetek-bengek yang detil sekalipun. Tentu saja, agar dirinya nyaman, dirinya akan dikelilingi oleh Yes Men yang cenderung menjadi sycophant bagi dirinya.
Alasan kenapa orang seperti ini saya kurang sukai adalah karena orang seperti ini terbutakan dengan kekuasaan, hingga objektivitas dirinya dalam menilai menjadi hilang. Dirinya cenderung kaku dan tidak fleksibel dalam pemikirannya dan cenderung tidak mau melihat keadaan yang sebenarnya di lapangan hingga sesuatu yang buruk terjadi. Kita tahu,accident will occur, and when it occurs, it is too late to take refuge. Keadaan di lapangan pasti berbeda dengan apapun yang ada di dalam visi. Keadaan di lapangan pasti tidak sama dengan apapun yang ada di atas kertas, bahkan tidak dapat diduga dengan pasti ke mana arahnya.
2. Orang yang merasa “segalanya adalah untuk saya”
Egois? Bisa jadi. Beberapa orang cenderung berada dalam masa kanak-kanak, meskipun usia dirinya sudah dewasa. Mereka terlihat tua, seperti pada umumnya orang tua, namun di dalam diri mereka justru terdapat jiwa anak kecil yang bersifat narcissist dengan ego yang sangat mengganggu. Tujuannya adalah, seperti halnya orang narcissist lainnya, tentu saja mendapatkan perhatian. Mungkin mereka terlihat karismatik, namun pada dasarnya dirinya ingin dipuji. Karena dirinya ingin dipuji, akhirnya dirinya akan cenderung melihat keadaan mana yang membuatnya dipuji–mereka akhirnya tidak konsisten dengan keputusan. Bilang A kepada karyawannya, namun besok harinya dirinya bilang B kepada karyawannya hanya karena di sampingnya ada direktur.
Memang ego dibutuhkan oleh seorang boss. Namun perlu diingat ego yang seperti apa yang harus dimiliki–ego seorang yang dewasa, bukan ego yang dimiliki oleh anak kecil narcissist. Memang dari anak kecil juga bisa kita ambil pelajaran, namun sifat buruk mereka, seperti sifat posesif haruslah kita hindari.
3. Orang yang terjebak dalam masa lalu
Ya. Orang yang terjebak dalam masa lalu adalah karakteristik orang yang tidak saya sukai, meskipun dirinya menjadi seorang boss. Dirinya tak sadar kalau dirinya sudah besar. Dirinya tak sadar kalau dirinya sudah dipromosikan menjadi seorang boss. Namun, pikirannya masih terjebak dalam masa lalu, sebagai seorang karyawan.
Act like a boss, dude! Ya, saat dipromosikan menjadi seorang boss, maka berperilakulah sebagai seorang boss. Mindset seorang karyawan mungkin terbatas, namun keterbatasan mindset seorang boss akan menjadi sebuah batu yang mengganggu perubahan. Akhirnya, dirinya pun tak bisa mengeksplorasi kemampuan dirinya sebagai boss, mengingat dirinya tak bisa belajar kompetensi yang baru.
Efektifkah boss yang seperti itu? Of course not. Justru, kadang dirinya menjadi racun bagi yang lain. “Alah, boss aja begitu. Ya gimana kita.”
Well itulah tiga karakteristik dari boss yang saya kurang sukai. Bila Anda memiliki karakteristik lainnya, silakan tinggalkan di dalam komentar. Mari kita hindari sifat-sifat buruk tersebut untuk menjadi pemimpin yang membawa barokah di mana pun kita berada…
Allâhu a`lamu bi-s-shawâbi…

0 komentar :
Posting Komentar